Naila's Timeline

live . love . laugh

Powered by Blogger.
  • Home
  • About me

Lanjut dari kisah perjalanan gw di Belanda,  part ini gw akan membahas perjalanan di Berlin.

Hari Keempat
Berangkat dari Amsterdam jam 11.15 malam, gw sampai jam 9 pagi di Berlin. Lebih tepatnya di Berlin Central Bus Station. Stasiunnya tidak besar-besar amat, khusus untuk bus saja. Mungkin kalau di Indonesia disebutnya terminal, tapi ya jauh lebih bersih dari terminal Blok M, hehehe.

Berlin Central Bus Station

Setelah membeli 3-day pass dari rourist information counter, gw naik kereta ke apartemen temannya sepupu gw. Untuk transportasi bisa beli tiket single way atau day pass seperti gw. Namun, sistem ticketingnya ini agak mengherankan. Kalau di Belanda setiap naik angkutan transportasi harus nge-tap 2 kali yaitu ketika masuk dan keluar. Nah, kalau di Berlin, di stasiun tiketnya ini dimasukkan mesin untuk di-cetek, dan tanggal dan waktu tanggal cetek akan tertera di kartunya. Setelah itu tidak perlu lagi nge-tap ketika keluar.

Tiket 3-day pass gw, hanya perlu di-cetek 1 kali di awal, lalu sudah deh, bisa naik angkutan apapun sepuasnya tanpa perlu nge-tap sana sini. Dan tidak ada pengecekan untuk masuk kereta atau gerbang. Jadi kalau gw mau curang, bisa aja gak beli tiket sama sekali. Naik turun tidak ada yang meriksa. Info dari temannya sepupu, kadang-kadang ada polisi yang sidak, ngecek kartu itu. Tapi selama gw disana tidak ada sidak sama sekali. Nah,  kalau sistem ini diterapkan di Indonesia, yang ada orang-orang tidak ada yang beli tiket sama sekali atau beli 1 tiket tapi dipakai selamanya. :p

 
3 Day Pass yang bikin heran, hasil cetek-an ada di atas 
(pas pertama kali gw salah malah nge-cetek berkali-kali)

Sampai di tempat teman sepupu gw, gw mandi, lalu makan bareng dia dan teman-temannya. Kemudian, melejit ke Museum Island. Museum Island adalah kawasan di sebelah selatan Berlin yang dikelilingi sungai Spree, sehingga disebut dengan pulau Spree. Kawasan ini terdiri dari lima museum yang dibangun pada tahun 1823 dan 1830, antara lain:
  1. Altes Museum (Old Museum) 
  2. Neues Museum (New Museum)
  3. Alte Nationalgalerie (Old National Gallery)
  4. Bode Museum
  5. Pergamon Museum 
Museum yang  pertama gw kunjungi adalah Pergamon Museum, yang terdiri dari 3 bagian yaitu Antiquity Collection, Islamic Art Museum, dan Middle Eat Museum.
Gerbang Ishtar di Antiquity Colletion

Salah satu koleksi yang terkemuka adalah Ishtar Gate, dahulunya gerbang utara Babilonia, dan diberi nama dari dewi Ishtar. Gerbangnya ini sendiri diketemukan tahun 1899 oleh ekskavasi Jerman, dan direkonstruksi ulang (hanya gerbang yang lebih kecil dengan tinggi 15 meter). Bagus banget warna dan motif gerbangnya, jadi pasang 1 juga di rumah #ngayal.

Market Gate of Miletus
Gerbang di atas adalah gerbang pasar di daerah Miletus, kerajaan Romawi, pada masa kekuasaan Raja Hadrian (2nd century BC) .



Di Islamic Art Museum lengkap koleksi dari jaman Dinasti Umayah, Samaniyah, Fatimiyah,  Ayubiyah, Mughal, kesultanan Turki, dan lain-lain. Lengkap bangeeeett.. Jadi pengen baca ulang sejarah dinasti Islam, terus balik lagi kesana. Heran juga ternyata malah di Berlin ada Islamic Art Museum :).



 Koleksi di Islamic Art Museum

Dari Pergamon Museum, gw berpindah ke Neues Museum. Salah satu koleksi yang terkenal di Museum ini adalah mumi Nefertiti. Alkisah, ketika gw di dalam museum ini, dengan cueknya gw sibuk ambil foto sana sini pakai digicam. Salah satu objek yang difoto yaitu Akhenaten, suami dari Nefertiti gw foto juga.
Lalu.. Ketika gw mau foto Nefertiti, gw merasa ada yang ngelihatin dari belakang, perasaan gw jadi gak enak. Pas gw nengok, ternyata penjaga museumnya lagi ngelihatin gw dan langsung menghadang. Bahwa ternyata Nefertiti, tidak boleh difoto, termasuk suaminya juga (tapi sudah terlanjur).  Akhirnya gw lihat-lihat lagi, sambil diawasi dengan pandangan tajam dari para penjaga.
 Ada yang butuh kasur baru?

 Koleksi Neues Museum (horror)

Akhenaten (yang seharusnya tidak boleh difoto)

Kalau Night at the Museum beneran terjadi di museum ini (aka patung-patung dan mumi dkk hidup semua kalau malam) seru banget kali yaaaa, tapi juga seraaaam!

Ah.. Sayangnya gw hanya sempat mampir ke 2 museum itu saja, rasanya pengen balik lagi dan masuk ke semua museum di Museum Island.

Beres muter-muter di Museum Island, gw jalan-jalan di sekitar Berlin Cathedral, atau biasa dikenal dengan nama Berliner Dom. Bangunan ini adalah gereja Kristen Protestan terbesar di Berlin. Mulai dibangun pada tahun 1465, namun baru benar-benar selesai dibangun 440 tahun kemudian. Saat perang dunia kedua berlangsung, gereja ini sempat mengalami kerusakan parah. Namun pada tahun 1993, Berlin Cathedral kembali diperbaiki.

Di depan Berliner Dom, ada taman besar, banyak orang yang asik duduk-duduk rumput atau asik foto-foto (gw aja kali yaaa).
 
Senja hari di Berliner Dome

Dari Berliner Dome, gw jalan kaki sampai Alexanderplaatz,  taman yang ramai di tengah kota Berlin, dekat tepi sungai Spree dan Berliner Dom. Di lapangan ini juga terdapat menara televisi Fernsehturm dan Gereja Nikolai.
Alexanderplaatz dan Menara Fernsehturm

Hari Kelima
Hari esoknya, waktunya mengunjungi salah satu trademark dari Berlin, apalagi kalau bukan Berlin Wall. Dinding yang dulunya memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur, sebelum akhirnya diruntuhkan sebagai tanda penyatuan kedua wilayah. Saat tembok ini masih berdiri, tak terhitung berapa banyak orang yang tewas akibat berusaha menyeberang.

Grafiti "My God, Help Me to Survive This Deadly Love" atau yang biasa dikenal sebagai "The Fraternal Kiss" yang dilukis oleh Dmitri Vrubel. Gambar ini menunjukkan bahwa para pemimpin yang mengunci mulut mereka

 Pengamen ala Berlin (padahal lagi musim gugur yang anginnya bikin merinding lho!)

Tembok Berlin ini berada sejajar dengan Sungai Spree. 
Yang menarik saat saya lihat baliknya, ternyata sedang ada pameran WARonWALL yang mengambarkan kondisi peperangan di Suriah beserta korban-korban yang terluka atau cacat akibat perang tersebut.  



WARonWALL

Jerman sendiri telah menerima 1 juta pengungsi akibat perang yang berkecamuk di daerah Suriah dan sekitarnya. Banyak yang mengecam, namun di lain sisi, penghuni Jerman sendiri pada saat perang dunia kedua, terutama yang dahulu terancam diberantas NAZI banyak yang mengungsi ke negara lain. Mungkin kebesaran hati mereka menerima pengungsi sebagai bentuk terima kasih atau balas budi kepada dunia yang telah menampung nenek moyanganya dahulu.

Dari tembok Berlin (di East Side Gallery), gw beranjak ke Checkpoint Charlie yang terletak di Friedrichstrasse. Checkpoint Charlie digunakan polisi militer Amerika Serikat untuk memeriksa dan mendaftarkan tentara Barat yang keluar masuk dari Berlin Barat ke Berlin Timur.

Penyebutan Checkpoint Charlie diambil bukanlah nama dari tentara Amerika atau lainnya. Penyebutan itu diambil dari kata alfabet fonetik "C" yang berarti "Charlie", sekadar untuk memudahkan penyebutan.

Checkpoint Charlie. Btw, ternyata foto ma serdadu itu harus bayar (baru tahu, pas udah mau beridi manis di sampingnya. Tapi karena udah terlanjur, apa daya harus bayar)


Setelahnya, gw jalan kaki ke Holocaust Memorial. Sayangnya disini gw malah melewatkan untuk masuk ke dalam museumnya dan hanya lewat saja. Padahal kalau baca dari reviewnya, tempat ini membahas lengkap tentang peristiwa Holocaust.


 

Lalu gw jalan-jalan (kaki) lagi berkeliling Berlin. Mulai dari Brandenburg Gate.Landmark ini menjadi simbol dari berbagai rezim sepanjang sejarahnya, dimulai dengan Kekaisaran Prusia dan terus berlanjut sampai Nazi dan kemudian rezim Komunis. Saat ini, Gerbang Brandenburg merupakan simbol kebebasan dan perdamaian sekaligus saksi simbolis runtuhnya Tembok Berlin.


Reichstag merupakan gedung parlemen Jerman yang letaknya di sebelah gerbang Brandenburg. Gedung ini selesai dibangun dan dibuka pada tahun 1894, yang dananya berasal dari kemenangan perang atas Perancis. Selanjutnya gedung ini mengalami renovasi hingga akhirnya selesai pada tahun 1999.

Nontonin kakek nenek pacaran depan

Beres mengitari Berlin, sempat juga mampir ke Primark, chainstore terbaru di Eropa, malamnya gw ketemu dengan teman SMA yang kerja di Berlin. Dan... Besok paginya, trip ini berlanjut lagi ke Praha

Kesan tentang Berlin:
  • The people: agak mirip orang Jakarta sepertinya. Urusan lu, urusan lu. Urusan gw, gw. Kira-kira begitu, hehehe. Setiap orang seperti ada urusannya masing-masing
  • Makanan: bertahan hidup dengan makanan Vietnam dan Kebab disini. Dan kebabnya, sepanjang lengan!! (Oke gak sepanjang itu sih) Tapi emang besar banget
  • Transportasi: yang menarik keretanya agak jadul gitu, gw kira bakal canggih dan futuristik. 






Begitulah kisah Berlin, next trip di Praha akan dibahas disini. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sebelum cerita tentang Amsterdam dan Den Haag. Pertama, gw akan cerita dulu perjalanan sampai mendarat di negeri Belanda.

Penerbangan gw untuk berangkat dari Jakarta ke KL yaitu Malindo Air pukul 13.10 sampai dengan 15.30. Dari pagi, gw udah nongkrong di Bandara Soekarno-Hatta supaya tidak terkena macet dan bisa check-in dengan leluasa. Dann.. Penerbangannya sedang bersahabat pada hari itu, jadinya lancar dan tanpa delay sama sekali:)

Di KL, karena gw ganti penerbangan ke Turkish Airline, jadi harus keluar imigrasi dahulu, mengambil bagasi, dan balik check-in lagi, drop bagasi, dan kembali masuk lewat imigrasi.

Akan tetapi, ternyata antri imigrasi untuk keluar di bandara KL perlu waktu sampai dg 2,5 jam! Belum lagi harus kembali antri check-in dan imigrasi kembali untuk ke arah Belanda. Untung saja waktu transitnya 5 jam, kalau di bawah itu waktunya, pasti sudah ketar-ketir takut ketinggalan penerbangan selanjutnya.

Dari KL, butuh waktu 12 jam untuk sampai di Istambul. Transit 2 jam, lalu lanjut lagi penerbangan ke Amsterdam selama 4 jam. Dan.. Akhirnya sampailah gw di benua Eropa.

Airport fashion 2016: baju gembel tapi nyaman, biar enak di pesawat belasan jam

Hari Pertama
Sampai di Schipol International Airport, dengan muka penuh lelah, gw mampir dulu ke stand Ako, untuk membeli 4 days transport ticket pass. Dengan tiket ini, gw bisa naik trem dan bus apapun selama 4 hari di Amsterdam, namun tiketnya tidak meliputi tiket untuk pergi dari Schipol ke Central Station. Beruntung tempat yang gw tuju bisa dijangkau dengan bus, jadi tidak perlu beli tiket terpisah.

Dari Schipol, gw naik bis ke rumah kenalan Tante di daerah Osdorp. Disana bertemu dengan sang pemilik rumah yang ramah dan baik hati, bahkan disuguhi makan siang. Setelah mandi dan beres-beres sebentar, jam 2 siang gw udah siap untuk melipir ke tengah kota.

Cuaca hari itu cukup cerah, gw kembali naik bus untuk pergi ke daerah tengah kota. Tujuan pertama ke Dam Square dan Central Station. Gw yang belum bermodalkan tongsis, akhirnya terpaksa minta diambilkan foto oleh sesama turis di tempat-tempat itu.
 
Dam Square yang selalu penuh (itu bajaj hijau sepertinya mobil pembersih sampah)

Depan Central Station

Sempat juga diajak ngobrol oleh orang Sudan, yang ternyata berakhir dengan ajakan makan malam (dengan cepat gw tolak dengan alasan “Teman gw sudah nunggu! Dadah” terus langsung lari kabur). Lalu, naik canal cruise. Ngintip-ngintip red light district mumpung masih sore hehehe, jadi belum keluar para penghuni di balik kacanya. Terus gw ketemu sama bapak-bapak Garuda yang lagi pelatihan dan kita muter-muter ke Rembrandt Park dkk.
 
Di dalam canal cruise 
 
Kata audio guidenya, foto tempat ini sering dijadikan foto kartu pos, kaena ada 7 jembatan berjejer (apa gak sampai 7 ya? #mulailupa). Tapi apa daya, gw ga jago foto jadinya begitu deh hasilnya

 Numpang makan di Rembrandt Park
Akhirnya hari pertama berlalu dengan lancar. Balik ke rumah, disambut dengan gulai kepala kerbau, yang seumur-umur di Indonesia gw gak pernah makan (feel so much welcomed! More home than home!). Untungnya gak jetlag juga, jadi malam-malam langsung sukses tidur pulas. Zzzzz....

Hari Kedua
Tujuan perjalanan gw di hari kedua adalah Den Haag, kota yang berjarak 66 km dari Amsterdam. Berdasarkan info dari sini, Den Haag adalah salah satu kota paling luar biasa di Belanda. Bukan hanya sebagai kota pemerintahan, namun juga karena banyaknya bangunan, distrik bersejarah, dan lokasinya yang dekat dengan garis pantai Laut Utara yang indah. Den Haag juga dikenal sebagai ‘Kota Kerajaan di Tepi Pantai’ (‘Royal City by the Sea’), dan disebut sebagai ‘kota kediaman’ (‘residence city’) karena banyaknya anggota Keluarga Kerajaan Belanda yang tinggal di lingkungan yang elok ini.

Hari itu, sebelum pergi ke sana gw diajak dulu oleh keluarga tempat gw menginap untuk membeli tongsis dan paket data. Sepertinya mereka agak khawatir mendengar cerita gw muter-muter sendirian di hari sebelumnya, jadi mending beli paket data biar bisa dihubungi dan pakai tongsis biar gak usah minta orang lain fotoin, hahaha.

Sesampainya di Central Station Den Haag, gw beli tiket untuk one day trip transport di tourist center.

 Stasiun utama Den Haag

Lalu naik trem ke Madurodam. Ternyata gw salah perhitungan, kalau ambil tiket one day pass, bisa mengunjungi Madurodam. Tapi gw malah beli ketengan, one day trip sendiri dan entrance fee Madurodam sendiri, jadi jatuhnya lebih mahal.

Apa itu Madurodam? Bukan, ini bukan tempat jualan madu, bukan juga daerah tempat tinggal orang Madura di Belanda. Madurodam adalah sebuah kota miniatur yang terletak di Scheveningen, Den Haag, yang berisi angunan-bangunan khas Belanda dan landmarks seperti yang ditemukan di berbagai lokasi di negara tersebut. 

 
Isinya emang banyak sekali, dan tertata dengan rapih. Madurodam terbagi menjadi tiga area bertema: StedenRijk, WaterRijk, dan VindingRijk. StedenRijk memamerkan sejumlah bangunan terindah dari dalam kota tua di Belanda. WaterRijk memiliki konsep "air sebagai teman dan musuh", sementara VindingRijk menunjukkan "Belanda sebagai sumber inspirasi dunia" (arsitektur, inovasi, olahraga, hiburan, serta desain).

Keluar dari Madurodam, bermodalkan peta dari tourist center gw jalan kaki kelilingi kota itu.
 
Mauritshuis, musium lukisan-lukisan pelukis abad ke-17 dan 18 dan juga rumah dari lukisan ‘Girl with a Pearl Earring’

 
Foto bareng abang-abang penjaga 
 
 Inside Het Binnenhof

Numpang shalat di Palestuin Park (taman istana) yang  terletak tepat di belakang Noordeinde Palace

 Peace Palace yang masih digunakan oleh Mahkamah Internasional, Pengadilan Arbitrase, Perpustakaan, dan juga oleh Akademi Hukum Internasional Den Haag

 Nontonin Prince William naik sepeda

Di Den Haag, cukup jalan kaki kemana-mana, kecuali dari Madurodam ke tengah kota dan ketika kembali dari Peace Palace ke stasiun. Kembali naik kereta ke Amsterdam, ketemu Bapak-Bapak Belanda yang ternyata dulu pernah kerjasama dengan PMI Salemba, bahkan suka banget sama salah satu masakan di warung UI salemba. Sampai di Amsterdam gw mampir dulu ke Iamsterdam depan Rijk Museum. Lalu kembali ke rumah.

 Spot wajib buat foto

Kesan tentang Den Haag:
Lebih suka kota ini dari Amsterdam! Kotanya tidak terlalu besar, bisa jalan kaki kemana-mana, dan enak banget buat sepedaan. Jauh lebih tenang dari Amsterdam. Orangnya juga ramah-ramah (soalnya beberapa kali nyasar, mereka duluan yang nyapa buat menunjukkan jalan).

Hari Ketiga
Hari ini terakhir di Belanda. Pilihannya saat itu antara pergi ke Zaansche Hans (desa kincir angin, 21 km dari Amsterdam) atau Volendam (kota Nelayan kuno, 20 km dari Amsterdam dan juga tempat foto dengan baju Belanda). Berhubung gw perginya sendiri banget, kayaknya kok agak geje ya kalau foto pakai baju belanda sendirian, hehehe. Akhirnya gw memutuskan untuk pergi ke Zaanse Schans.

Untuk pergi kesana, tinggal naik kereta dari Central Station dan turun di stasiun Koog-Zaandijk. Lalu jalan 10-15 menit melewati desa Zanndijk.
 
Jalan menuju Zaanse Schans

Apa daya, sesampainya disana ternyata hujan. Bermodalkan payung yang udah rusak, gw pantang menyerah, tetap jalan sampai ke kincir angin yang paling ujung di bawah guyuran hujan dangdut.
 
Awan menggelayut di kejauhan 

 Di balik kincir-kincir angin 

  
Tangan kanan payung, tangan kiri tongsis (sukses dilihatin orang-orang yang lewat)
Peta Zaanse Scahns
Setelah sampai kincir angin yang paling ujung, lalu kembali lagi ke daerah pedesaannya, gw mampir ke toko keju setempat. Disana bisa nyobain tester sleuruh jenis keju. Dan ternyata enaaakkk, apalagi yang truffleee, padahal gw gak suka keju, mungkin efek kehujanan dan kelaparan, segalanya jadi enak hahaha..

Isi toko keju

Dari Zaanse Schans, gw balik ke Amsterdam lalu melipir ke apartemen temannya teman kakak gw (see, modal nekat banget kan, mana pernah di Indonesia, gw mampir-mampir rumah orang gak dikenal).

Lumayan dapet makan gratis, terus maen-maen ma anak-anaknya (yang biasanya gak gampang nempel orang, tapi mau nempel ma gw)… Tapi 30 menit kemudian gw dimuntahin anak-anak itu, wkwkwkw.. Nasib tante cantik (iya iya gak ada hubungannyaa).
Dari situ, gw balik ke rumah, lalu diantar ke stasiun Sloterdijk malam-malam. Untuk naik bus ke Berlin dengan bermodalkan keramahan orang Belanda dan cumi-cumi dari orang rumah.

Kesan-pesan tentang Belanda:
  • Yaa, gw cuma sesaat sih disana. Tapi for sure, orang Belanda ramah banget, paling ramah di seantero negeri Eropa yang gw kunjungi. Kalau ditanya jawabnya dengan senang hati dan sangat jelas. Dan jago bahasa Inggrisnya.
  • Makanan: gw cuma nyoba kentang itu (apa ya namanya lupa). Berhubung lagi backpacker mode: on, gw lebih banyak makan roti dan juga udah bawa air dari rumah
  • Transportasi: trem versi Belanda yaitu semacam bus panjang tapi sudah ada jalurnya di jalan raya (di negara lain ada yang menyebut kereta sebagai trem). Tremnya sudah modern, cepat, dan menjangkau kemana-mana. Sistemnya pas masuk harus nge-tap dan pas keluar nge-tap lagi. 
Begitu kisah di Amsterdam, next part (trip di Berlin), bisa dibaca disini.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me


About Naila
Halo, saya Naila Fithria, penulis blog ini.
Tukang jalan-jalan dan tukang galau juga:)
Anyway, selamat datang dan selamat membaca blog ini. Tabik!

The other me

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter

Through the years

  • ▼  2020 (1)
    • ▼  February (1)
      • A Week in Istanbul
  • ►  2017 (9)
    • ►  October (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2015 (13)
    • ►  September (5)
    • ►  August (1)
    • ►  July (3)
    • ►  May (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (7)
    • ►  June (2)
    • ►  May (5)
  • ►  2013 (2)
    • ►  November (2)
  • ►  2012 (3)
    • ►  December (1)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2011 (3)
    • ►  August (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (4)
    • ►  May (5)
    • ►  April (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2009 (20)
    • ►  December (4)
    • ►  September (1)
    • ►  August (5)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (6)
    • ►  January (1)
  • ►  2008 (17)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  July (4)
    • ►  May (2)
    • ►  March (3)
  • ►  2007 (6)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)

Naila's Timeline

Loading...

Created by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates